Bergulat Mengukir Prestasi

9 12 2009

Assalamu’alaikum wr.wb. untuk saudaraku yang membaca artikel – artikelku, semoga Allah swt melimpahkan kesehatan dan rejeki kita semua. Amin.
Kali ini saya akan mengulas buku ” Bergulat Mengukir Prestasi ” yang saya baca hari ini. Sungguh menakjubkan membaca kisah orang – orang yang gigih dalam memperjuangkan hidup dan prinsipnya sehingga bisa berguna bagi bangsa dan negara. Salah satu contohnya adalah kisah tentang Wanhar Umar kepala SD Muhammadiyah Langsatan Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan karena hampir mirip dengan cerita di film Laskar Pelangi. Hanya situasinya lebih mengharukan dimana Beliau hanya lulusan SD dan menjadi guru sejak umur 13 tahun. Adalah Wanhar Umar dia belajar kepada M Torib pendiri sekaligus Kepala SD Muhammadiyah Langsatan. M Torib meminta Umar menjadi guru karena dialah satu – satunya murid yang bisa diandalkan dibanding 8 kawan seangkatannya. Meskipun Umar bukanlah murid paling pandai, jadilah ia mengajar di sekolah yang hanya memiliki 30-an siswa kala itu. Umar juga dipandang Torib memiliki perilaku kerja yang ulet, tidak banyak bicara dan memiliki jiwa kepemimpinan baik. Seringkali M Torib menunjuk Umar sebagai ketua kelas. Sering pula Umar diminta membantu proses belajar mengajar pada adik-adik kelasnya.
Pria kelahiran 1963 ini warga asli Dusun III Langsatan, Desa Gumawang, Kecamatan Rambangdangku Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. SD Muhammadiyah langsatan berdiri di dusun kelahiran umar. Status sekolah menginduk pada SD Muhammadiyah Prabumulih, yang berada di kecamatan Prabumulih sekitar 55 kilometer dari tempat tinggal Umar.
Profesi sebagai guru memang sempat dicita-citakan Umar. Tapi ia tidak pernah membayangkan jika harus menjadi guru di usia yang masih 13 ahun. Ketika kepala sekolah memintanya menjadi guru, Umar tidak bisa menolak. Umar kasihan melihat Pak Torib hanya seorang diri menjalankan roda kehidupan SD Muhammadiyah Langsatan . Mulai urusan sekolah, guru bahkan administrasi semuanya diurus sendirian Pak Torib.
Menurut Umar, untuk mencari guru pendamping memang sulit. Sebab hampir seluruh penduduk yang berjumlah 360 jiwa dari 68 kepala keluarga di dusun III langsatan boleh dikata belum pernah menikmati layanan pendidikan. Satu-satunya sekolah yang bisa diakses dengan mudah hanyalah SD Muhammadiyah Langsatan. Sekolah ini baru berdiri pada tahun 1971 tepat saat Umar berusia 6 tahun.
Menjadi guru di usia belia, pada awalnya membuat Umar sangat canggung. Lantaran yang diajar adalah adik-adik kelasnya sendiri. Postur tubuh Umar juga tergolong pendek dibanding murid – murid yang diajarnya. Selain itu Umar harus membiasakan memanggil adik-adik kelasnya dengan sebutan anak-anak. Ia pun rela dipanggil Pak Guru. Sebenarnya lucu, mereka memanggil saya pak dan saya memanggil mereka anak-anak. Ia bermain dengan teman-temannya.
Di luar jam sekolah, Umar dan murid lain khususnya kelas V dan VI banyak yang juga membantu orangtua menyadap karet pada pagi dan sore hari. Umar sendiri tiap hari menjalani kegiatan tersebut sebagai sumber penghasilan utama. Dalam setengah hari kerja, Umar biasanya mendapatkan bayaran tak lebih dari 500 perak. Bayaran sebagai penyadap karet itu lebih besar dari gaji sebagai guru yang hanya Rp. 75/bulan plus dua canting atau 2 liter beras. Umar tidak pernah merasa keberatan meski bayaran dari kerjanya sebagai guru sangat minim dan jauh dari kecukupan.
Tahun 1985, ketika Umar berusia 22 tahun diangkat menjadi kepala sekolah menggantikan Torib yang memasuki pensiun. Selain menggantikan posisi kepala sekolah , Umar juga menggantikan peran Pak Torib seutuhnya. Artinya ia kepala sekolah sekaligus guru dan tenaga administrasi. Sebagai kepala sekolah, Umar mendapat gaji Rp.100.000,- sebulan. Kala itu iuran siswa perbulan sebesar Rp. 5000,-
Meskipun didera beragam kesengsaraan dalam kehidupannya yang terpencil Umar tak pantang menyerah. Dalam kesendiriannya mengurus sekolah, ia tak henti-hentinya memberikan motivasi pada orangtua dan murid-muridnya agar bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi, paling tidak hingga SMP, syukur-syukur sampai SMA. Hanya satu yang diharapkan Umar, kelak mereka bisa pulang kampung dan mengabdi menjadi guru di SD Muhammadiyah Langsatan melanjutkan perjuangannya.
Babak pencerahan didapati Umar di tahun 2008 lalu. Tak pernah ia menyangka jika ada pemerhati atas pengabdian nya hingga rela bersusah-susah mengundang ke Jakarta. Adalah Andy F Noya yang mengundang Umar ke Jakarta untuk dijadikan tamu program Kick Andy yang biasa ditayang di Metro TV. Kick Andy menghadiahi Umar uang tunai Rp. 15 juta. Sejak saat itulah Umar merasa telah menerobos kegelapan hidupnya dan melakukan lonjakan yang cukup drastis. Selama itu, ia nyaris tak pernah kelua kampung halaman paling banter ke Muara Enim atau Prabumulih saat memboyong siswanya mengikuti Ujian Nasional di sekolah induk.
Buah tampil di Kick Andy membuat Umar kian populer di masyarakat. Dalam forum-forum ilmiah, khususnya yang dihadiri para pendidik dan tenaga kependidikan , seringkali sosok Umar diangkat sebagai referensi pengabdian seorang guru. Orang pun banyak yang terbelalak dan kagum melihat sosok Umar.
Demikian halnya dengan Pemerintah Kabupaten Muara Enim yang juga kepincut terhadap kiprah Umar setelah kemunculannya di Kick Andy. Umar secara khusus diundang Bupati Muara Enim . Gaji Umar juga dinaikkan menjadi Rp. 750.000,-.Pemkab Muara Enim juga mengucurkan bantuan perbaikan gedung sekolah sehingga sekarang SD muhammadiyah Langsatan sudah berdiri kokoh dan permanen. Status SD juga sudah di negerikan, jumlah muridnya 74 orang, dan gurunya bertambah 2 orang.
Ditengah kebahagiaan yang belum dirasa pada tanggal 28 Februari 2009, Umar diundang kembali oleh Kick Andy untuk menerima award Kick Andy Heroes Award.
Begitulah kisah seorang guru yang masih pantas disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Semoga bisa menjadi teladan bagi Guru-Guru lain yang mulai kendor dengan perjuanganya karena masalah ekonomi. Dan bagi kita yang bukan Guru, Semoga bisa menjadi pemicu semangat bahwa perjuangan itu harus terus dipompa sehingga cita-cita bisa terwujudkan atas bantuan Allah swt. Amin


Aksi

Information

One response

7 12 2012
tama

“SD ini berdiri sejak tahun 1971 yang dirintis oleh M Rokib. Saya menjadi guru di sini saat tamat SD di sini yaitu tahun 1976. Sampai sekarang sudah 32 tahun saya menjadi guru,”ujar Wanhar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: